PELABUHAN DI PELUPUK MATA

PELABUHAN  DI PELUPUK MATA
NAHKODA DI LUBUK HATI
Intro..........
Mungkin judulnya rada aneh, tapi ya itu yang lagi ada di benak. Jadi ditulis aja deh :] syukur syukur kalau dianggap keren :] tapi perhatian nih, cerita yang ditulis itu, penuh dengan teka-teki dan nalar, jadi mainkan nalar mu untuk tau apa maksud dari cerita ini :] good luck :]]
Masalah “pelabuhan” kita kenal itu adalah sebuah nama tempat, dimana alat transportasinya adalah perahu, kapal laut atau segalanya yang berhubungan dengan air dan laut,  anggap lah itu  suatu tempat yang pastinya di nanti-nanti ketika kita memutuskan untuk pergi dan naik kapal laut.
Seperti yang tadi di bicarakan segala yang berhubungan dengan laut, identik dengan yang namanya air, air yang tidak pernah tenang, bergejolak, bergelombang, menghasilkan ombak yang membawa awak kapal naik turun diatas dinginnya air.
Kapal laut, seputar kapal laut, yang paling banyak diketahui adalah kapal laut dikendalikan oleh seorang nahkoda, nahkoda yang hebat, nahkoda yang paham dan nahkoda yang bertanggung jawab atas nyawa penumpangnya, intinya nahkoda adalah seseorang yang dipercaya penuh membawa keselamatan penumpang serta awak armadanya untuk sampai di pelabuhan yang dituju.
Begitupun dengan penumpang, Penumpang adalah orang yang mempercayakan penuh keselamatan dirinya kepada nahkoda dan sang kapten saat berada di kapal laut.

Ketika, kita memutuskan untuk mengarungi laut, tentulah kita memiliki resiko yang harus ditanggung, anggaplah ketika ombak sedang tenang tentu akan memberikan kenyamanan tersendiri bagi kita saat berada di kapal, berbeda ketika angin berhembus kencang dan membuat ombak menjadi pasang, rasa mual dan khawatir tentu muncul dibenak kita. Sama seperti hidup bukan? Mengarungi laut bisa kita artikan dengan kehidupan, banyak resiko dan banyak tanggung jawab ketika kita memutuskan sesuatu, adakalanya kita sukses dengan apa yang direncanakan dan adakalanya kita takut ataupun khawatir dengan keputusan kita sendiri, sama seperti iya atau tidaknya ketika ombak bersahabata dengan laut.


Memutuskan untuk mengarungi laut itu banyak caranya, naik kapal laut, naik kapal selam, atau mungkin berenang. Hanya saja kita yang menentukan dan kita yang memilih dengan cara apa kita mengarungi laut tersebut. Sama seperti ketika kita memilih jalan yang kita anggap paling benar dalam hidup ini sebut saja keputusan, dengan semangat, masalah sebesar apapun pasti kita akan berusaha untuk menyelesaikannya hingga akhir, karena itu sudah menjadi keputusan dan komitmen yang diambil.

Laut itu luas, banyak mahkluk yang menempatinya, dari tanaman, batu karang, ikan yang cantik, ikan yang biasa saja, hingga ikan yang buas. Sama seperti mahkluk lain disekitar kita sebagai manusia, ada hewan, tanaman, manusia yang baik, hingga manusia yang kurang baik. Kemana sih kita? Dan untuk apa mengarungi laut?
PELABUHAN, pelabuhan adalah salah satu jawaban atau alasan yang paling tepat kenapa kita memutuskan untuk mengarungi laut. Pahamilah bahwa pelabuhan disini dapat kita anggap sebagai tujuan hidup kita.

Kita pun memutuskan untuk memilih kapal laut sabagai cara cepat kita untuk sampai di pelabuhan, akan banyak lagi resiko yang harus ditempuh. Maka tak sedikit dari kita untuk memilih kapal laut yang baik, yang mahal dan yang ternama. Karena dengan itu, kita mengharapkan mendapatkan fasilitas yang baik dan nahkoda yang terlatih.

Saat memilih kapal mana yang paling baik, tentunya kita dihadapkan dengan nama-nama kapal beserta nahkoda yang membantunya. Sibuk memilih, sibuk menentukan. Singkat cerita dipilihlah sebuah kapal “A” itu berarti bahwa kita harus percaya dan yakin bahwa fasilitas dan nahkoda yang menbawa kita adalah yang paling baik dari yang terbaik untuk sampai pelabuhan dengan selamat.

Ubahlah paradigma itu dengan kehidupan, saat kita berusaha mewujudkan apa yang kita impikan, banyak tawaran, banyak saran, banyak godaan yang datang mencoba untuk membantu, tapi mana yang bisa kita percaya? Mana yang bisa kita ajak kerjasama dan mana yang bisa menguntungkan kita. Perlu pemikiran yang matang dan perlu pertimbangan yang masak untuk memilihnya. Alhasil dari pertimbangan itu pasti ada satu yang kita pilih, ada satu nempel dihati. Hahaha
Dengan syarat, kita harus percaya pada nahkoda dan kaptennya bahwa yang mereka lakukan adalah yang tebaik untuk kita. Ini bisa di ibaratkan ketika seorang wanita berusaha untuk mencari seseorang pria yang paling baik untuk tujuan hidupnya yang paling akhir, tidak perlu banyak bertanya apakah sang nahkoda mampu, apakah sang nahkoda bisa, apakah sang nahkoda berprestasi gemilang dalam mengendarai kapalnya? Cukup dengan percaya dan berani untuk berkata saya siap dibawa nahkoda untuk sampai di pelabuhan. Ini bisa di artikan kita siap dibawa oleh pemuda pilihan kita untuk sampai bersama di tempat akhir tujuan hidup.   

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Berinteraksi dengan Difabel