Inspirational Talk With Dr. Dani Ferdian [Founder Volunteer Doctor]


FORUM INDONESIA MUDA


Sabtu, 25 Juni 2016 Pukul 21:00 

Narasumber : Dr. Dani Ferdian
Moderator : Dinda Permatasari, S.Psi  

Pengantar :

Dr. Dani Ferdian memiliki pengalaman yang baik dalam membangun gerakan sosial di bidang kesehatan. Hal ini tercermin dari keberhasilannya membangun Volunteer Doctors di Jawa Barat, Jabodetabek, dan Jogja. 


Dr. Dani juga terlibat dalam pembangunan program kesehatan beberapa NGO dan perusahaan. Ia juga memiliki kemampuan dalam manajemen layanan kesehatan, hal ini terlihat dari pengalamannya menjadi Direktur atau Manager di beberapa lembaga pelayanan kesehatan. Selain itu beliau juga menjadi akademisi dengan menjadi dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran. Ia juga merupakan seorang praktisi dengan menjalankan praktik kedokteran melalui pendekatan kedokteran di klinik pratama. Saya pribadi pertama kali bertemu dengan beliau di acara Forum Indonesia Muda 17 di Cibubur. Saat itu beliau menjadi narasumber dengan tema yang sama. 


 

Nama     : Dani Ferdian
Domisili  : Bandung, Jawa Barat
Almamater :  
  • SMA N 3 Bandung,   
  • S1 di Fakultas Kedokteran, Universitas Padjajaran
  • S2 Manajemen Pelayanan Kesehatan di Universitas Indonesia.  

Riwayat pekerjaan:
  • 2013 - sekarang : Ketua Dewan Pembina Volunteer Doctors
  • 2014-sekarang : Asisten Manajer Bidang Pelayanan dan Pemberdayaan Masyarakat Yayasan Pembina Masjid Salman ITB
  • 2015-sekarang : Manajer Layanan Medis Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) Jawa Barat 
  • 2015-sekarang  : Direktur Mitra Medika
  • 2016-sekarang : Manajer Unit Bisnis PT Salman Global Medika 
  • 2016-sekarang : Project Consultant PT United Tractors
  • 2016-sekarang  : Tenaga Ahli Kemenpora RI  

Prestasi:
  1. 2015 - Peraih Penghargaan "Satu Indonesia Award" Kategori Kesehatan dari PT Astra International
  2. 2014 - Peraih Penghargaan Pemuda Pelopor Berprestasi Terbaik Tingkat Nasional Bidang Sosial, Budaya, Pariwisata, dan Bela Negara dari Kemenpora RI
  3. 2014 - Peraih Penghargaan Organisasi Pemuda Kategori Pengabdian kepada Masyarakat dari Gubernur Jawa Barat
  4. 2012 - Peraih Penghargaan "Ashoka Young Changemakers dari Ashoka Indonesia
  5. 2012 - Peraih Penghargaan "Inspiring Student Social Movement" Kategori Pelayanan Kesehatan dan Penanggulangan Bencana Alam dari Masyarakat Ilmuwan dan Teknologi Indonesia.  

Pengantar dari Dr.Dani :   
Perkenalan singkat tentang Volunteer Doctors, Volunteer Doctors, saya biasanya menganalogikan gerakan ini dengan sebutan sekolah nurani tenaga kesehatan. Volunteer Doctors (Vol-D) adalah sebuah gerakan sosial untuk membentuk karakter dokter maupun tenaga medis ataupun mereka yg tertarik pada bidang medical sosial dalam hal peningkatan empati, kepekaan sosial, dan semangat kerelawanan melalui berbagai kegiatan sosial yg dibutuhkan masyarakat.
Gerakan ini lahir sebagai salah satu upaya dalam menyelesaikan berbagai permasalahan kesehatan Indonesia dengan memberdayakan potensi tenaga kesehatan (sejak dini) dalam mengupayakan kesejahteraan masyarakat.  

Pertanyaan dan Jawaban !!!

  • Fauzi : Bagaimana Kang Dandi bisa mempertahankan Vol - D ini sampai bisa berkembang sampai saat ini ?  
Jadi Vol D berdiri sejak desember 2009, jadi kurang lebih mungkin sudah 6 tahun lebih berdiri. Apa yg bisa membuatnya bertahan?    
Mungkin secara umum, saya singgung tentang bagaimana kita mengawali (membangun) gerakan sosial   Dalam membangun sebuah gerakan, tentu salah satu yang mendorong saya bergerak adalah passion. 

Kesenangan saya berbuat, bergerak dalam berbagai aktivitas sosial, menjadi modal yg cukup besar dalam nafas hidup gerakan ini sampai sekarang. Passion yang membuat langkah kita serasa ringan. Jika gak punya passion dalam bidang yang kita gerakan, saya rasa akan cukup berat buat menggawangi gerakan.

Kedua tentu kapasitas. Background saya kedokteran, dengan kapasitas yang saya punya, maka saya mengarahkan aktivitas sosial di bidang kesehatan. Jika saya ambil bidang seni budaya, mungkin gerakan ini bisa putus ditengah jalan karena saya tidak punya kapasistas mengembangkan. 

Ketiga gerakan kita harus menjawab kebutuhan.  Ini yg juga bikin nafas gerakan semakin panjang. Kalo apa yang kita perbuat digerakan tidak menjawab kebutuhan masyarakat, tentu ini pun akan sulit berkembang. Kebutuhan masyarakat justru menjadi pemantik semangat kita untuk terus bergerak.

Tentu dalam membangun gerakan dan mempertahankan sampai sejauh ini perlu strategi. Ketika membangun sesuatu dari nol, strategi yang saya bangun dulu awalnya mengajak rekan-rekan terdekat yg punya visi sama dan potensi konflik kecil secara tertutup untuk membangun gerakan. Sama memulai gerakan tidak dari hal yg besar, tapi sesuatu yg kecil yang dilakukan secara konsisten. 

Walau manfaat yg dirasa tidak begitu besar. Asal kecil, tapi konsisten dilakukan itu bisa bawa efek bola salju, itu yang saya rasakan.  Selanjutnya jejaring, dulu saya bikin gerakan di usia 19-20 tahunan, mahasiswa tingkat 2 semseter akhir.   Kalau tanpa jejaring, mustahil rasanya bisa berkegiatan yang membutuhkan sumber materi dsb secara berkepanjangan ketika mengawali gerakan.

Keteladanan founder juga diperlukan, namanya gerakan sosial, sifatnya bener2 volunteer seringkali tidak mengikat anggota, walaupun itu temen terdekat kita. Untuk itu, konsistensi kita untuk menggawangi gerakan itu diperlukan.   Dulu saya juga sempat berada di sebuah fase tetap berkegiatan (walau itu sendiri) atas nama gerakan ketika temen-teman lain berhalangan atau bahkan mundurm Kalo foundernya futur, lalu mundur, selesai sudah sebuah pergerakan.

Ketika bikin gerakan juga gak sedikit loh orang yg mandang sebelah mata, bahkan dibilang "sok". Kalo kita kalah dengan hal2 seperti itu saya rasa gak akan panjang nafas gerakan. Setelah itu ya paling jalani regenerasi aja sih. Dalam membangun gerakan, fitrahnya kita akan banyak menemui kesulitan, sampai sekarang pun demikian. Tapi ingat bahwa sulit tidak selamanya sulit, sebagaimana mudah pun tak selamanya mudah. Jangan sampai kesulitan itu punya nafas lebih panjang dibandingkan semangat kita untuk mengalahkannya.   

Konsekuensi ketika jadi penggagas sebuah gerakan ya harus kuat. Karena hanya yg kuat yg mampu bertahan, dan hanya yg mampu bertahanlah yg akan sampai ke tujuan. 
 

Untuk Terjun ke Lapangan

Idealnya kita harus punya data terkait masalah atau kebutuhan kesehatan masyarakat disana Data itu bisa didapat dari mana? Bisa dari masyarakat, bisa dari jejaring kita yg menginfokan, bahkan bisa dari kita sendiri yg melakukan survey atau asessment langsung ke wilayah tersebut, atau tanya ke yang punya wilayah yakni Puskesmas setempat. 

Nanti setelah data kita punya, kita kaji, kita bikin prioritas masalah, dan bikin rencana intervensinya. Lakukan pendekatan ke pemerintah, tokoh masyarakat, atau bahkan komunitas lain atau swasta untuk sinergis Apa yg sulit?  Yang paling sulit buat saya adalah ngubah perilaku masyarakat.    Kali untuk urusan balai pengobatan, atau sesuatu yg bersifat kuratif mudah rasanya menyelenggarakan hal tersebut. Dan biasanya resistensi masyarakat terhadap program-program seperti itu kecil. Jadi yg paling susah adalah mengubah perilaku. Bagaimana kita ngasih tahu ke masyarakat melalui edukasi untuk tidak merokok dalam rumah ketika si kepala keluarga merokok di dalam rumah itu pernah kita rasain, dsb.   

Jadi kalo bilang yg paling sulit ya itu mengubah perilaku, padahal perilaku lah yang punya andil cukup besar dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Pengalaman berkesan banyak, diantaranya ketika :
  1. Turun ke anak jalanan, selain fenomena ngelem yang sudah menjadi rahasia umum, kami juga menemukan fenomena lain mereka mengkonsumsi obat dextrometrophan 80-100 tablet sekali minum, bahkan sampai pada perilaku seks bebas yg sampai menimbulkan penyakit menular seksual diantara mereka. Anak-anak usia 10-17 tahun sudah lebih dari 3x melakukan hub sex dengan anak jalanan lain, baik itu malam hari yang dilakukan di taman kota, atau siang hari yg dilakukan di gorong-gorong.  Satu anak ditemukan meninggal overdosis, dan satu anak kemudian meninggal karena HIV. Belum lagi perilaku mereka antar sesama anak jalanan, pernah ada satu anak jalanan yg dibakar menggunakan lem panas oleh temannya yg lain.  
  2. Diluar anak jalanan, di daerah2 beberapa kali saya menemukan kondisi masyarakat dengan kondisi yg sudah sangat parah, seperti kaki yg sudah membusuk, kanker kulit dengan stadium ganas, stroke, bahkan depresi yg hanya dilakukan perawatan oleh keluarga saja. Tanpa dibawa ke layanan kesehatan. Sampai pada meninggalnya.   atau jangan jauh-jauh ke desa.
  3. Sekarang saya sedang coba atasi massalah gizi buruk di salah satu wilayah di Jakarta. Dari 60 anak yg diperiksa, bayangkan saja 50% nya mengalami gangguan gizi, dan 40% diantaranya stunting /kuntet/kerdil yg hal tersebut menandakan kekurangan gizi yg sudah lama atau berlangsung kronis   
  4. Diluar itu masih bnyak lagi hal menarik, seperti bagaimana kita setelah naik gunung coba mengobati pasien, dan pulangnya dihadiahi oleh keluarga satu karung buah nangka dan hasil pertanian mereka. Atau hal2 diluar dugaan seperti menurut ODHA, bahwa stigma terbesar mereka datang justru dari orang kesehatan. Kita baru sadar ketika kita mulai bergaul dengan mereka.  Hal-hal seperti itu mungkin kurang lebihnya.     
Mayoritas anggotanya backgroundnya kesehatan. Tapi tidak menutup kemungkinan dari bidang non medis pun ikut tergabung. Sejauh ini anak-anak non medis banyak kok yang ikut tergabung, dengan background tehnik, hukum, komunikasi, dsb. Lalu apa yg mereka bisa lakukan? Mereka melakukan apa yg bisa mereka lakukan. Ketika ada yang jago fotografi, mereka yg dokumentasikan agar hasilnya lebih baik. Mereka yang jaga bikin web, membuat dan mengelola web kita. Mereka yang suka nulis, bikin tulisan yang bisa di share ke masyarakat. 

Mereka yang bisa desain, bikin desain-desain menarik itu campaign dsb. Atau bahkan yang punya tenaga saja, mereka bisa bantu di logistik, mengemudi dsb. 

Intinya apa yang mereka bisa lakukan, lakukanlah. Walau demikian, mereka dengan background non medis pun tetap kita bekali dengan kemampuan medis dasar, Seperti pertolongan pertama, swamedikasi, atau bahkan baca resep juga kita ajarkan untuk membantu teman-teman apoteker di lapangan.   


Perubahan perilaku itu proses yang amat panjang. Tahapannya mungkin sebagai berikut : 
  1. untuk mengubah perilaku diawali dengan tahu dulu, orang yg tahu belum tentu mengerti, orang yg mengerti belum tentu bisa, orang yg bisa pun belum tentu biasa, dan orang yg biasa pun belum tentu menjadi karakter/perilaku orang tersebut. Jadi tahapannya begitu panjang. Untuk mengubah hal tersebut terkadang butuh pihak lain diluar orang tersebut. 
  2. Perlu adanya kontrol prilaku, Bisa dari teman dekatnya, kakak, guru, pacar, orang tua, kalo di masyarakat mungkin juga kader, tokoh masyarakat dsb.  
Jadi untuk mengubah perilaku ya tahapannya seprti itu, gak bisa instan. 
Butuh waktu, butuh proses, sistem, juga strategi. Effortnya besar.  

Sekian                                        

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Berinteraksi dengan Difabel